APA
KABAR JIWAMU HARI INI?
|
Said bin Yazid – semoga Allah meridhoinya – berkata
kepada Rasulullah SAW : “nasehatilah aku”. Nabi SAW kemudian berkata : “aku wasiatkan
engkau agar malu kepada Allah SWT sebagaimana engkau merasa malu dari orang
yang shaleh” (HR Ahmad)
|
Wahai
jiwa apa kabarmu hari ini? Telah begitu lama diri ini tidak mengajak engkau
berdialog. Aku tahu bahwa selama ini engkau selalu aku acuhkan, tidak pernahpun
diri ini berniatan menyapa engkau untuk sejenak menanyakan keadaan serta
kebutuhan seperti apa yang semestinya aku penuhi untuk dirimu.
Wahai
jiwa, aku tahu telah sekian lama aku menutupi kejelekkan akhlakku dengan
berbagai kebohongan yang justru membuat dirimu kian tersakiti. Aku sebenarnya
sadar, bahwa bukan materi yang kau dambakan, tidak juga jabatan serta
popularitas yang kau impikan, melainkan ketentraman yang kau pinta carikan
sampai detik ini. Aku tahu bahwa detik ini dirimu telah capek akan semua
keserakahanku akan dunia ini, dirimu-pun mungkin telah kehilangan asa untuk
merajut kententramanmu itu dikala keinsyafan ini belum juga hadir memenuhi
seluruh relung kesadaranku, terlebih nafsu ini kian menikmati setiap kebejatan
perilaku yang aku tekuni. Aku sungguh – sungguh sadar bahwa sampai detik ini
aku tidak pernah mengeluh apalagi meratapi dosa – dosa ini, berbeda halnya
ketika seringnya aku mengeluh atas setiap karya materi yang belum aku capai.
Wahai
jiwa, aku sadari sedari awal bahwa entah tuk keberapakalinya aku diingatkan
dengan firman Tuhanku : “sesungguhnya kami telah memperingatkan kepadamu (hai
orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah
diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “alangkah baiknya
sekiranya aku dahulu adalah tanah” (QS. An – Naba’ : 40)
Dalam
uraiannya seorang guru besar dalam ilmu Tafsir, Al – Imam Mujahid berkata:
“manusia banyak yang mengeluh atas perhitungan di akherat, tetapi mereka tidak
pernah mengeluh atas kedzaliman yang mereka kerjakan didunia, jangan sekali –
sekali menganggap remeh dosa yang kalian kerjakan, karena dosa – dosa itu akan
berkumpul dan bersama – sama akan mencelakakan pelakunya. Orang yang melakukan
tindakan keji secara sembunyi – sembunyi ketika ia merahasiakan tindakannya itu
(sebenarnya) bukanlah termasuk perbuatan manusia, bagaimana bisa dianggap
rahasia, padahal malaikat dua pencatat amal, sekaligus saksi di kanan kirinya”.
Wahai
diri, mari kita perdengarkan dengan mata hati kita akan untaian nasehat dari
para guru besar ilmu psikologi terbesar yang pernah ada :
Bila manusia
disibukkan dengan dunia, maka sibukkanlah dirimu dengan Allah SWT.
Bila manusia gembira
dengan dunia, maka gembiralah dirimu bersama dengan Allah SWT.
Bila manusia merasa
nyaman dengan yang dicintainya dari makhluk, maka rebutlah rasa nyamanmu
bersama Allah SWT.
Bila manusia pergi
kepada raja dan para penguasa meminta rezeki, maka mintalah engkau kepada Allah
SWT
(Ibnu Qayyim Al -
Jauziyyah)
Termasuk hukuman
terhadap pelaku kemaksiatan adalah hilangnya rasa malu yang sebenarnya.
Malu itu adalah
unsur hidup hati da nasal muasal semua kebaikan.
Hilangnya rasa malu
berarti hilangnya kebaikan seluruhnya.
(Ibnu Qayyim Al -
Jauziyyah)
Sesungguhnya bagi
jiwa – jiwa manusia ada masanya ia mengalami semangat yang meluap – luap, namun
ada masanya ia mengalami kejenuhan. Maka optimalkanlah waktu disaat jiwamu
mengalami rasa semangat, dan janganlah engkau memaksakan diri di saat kejenuhan
itu hadir di jiwamu.
(Ibnu Qayyim Al -
Jauziyyah)
Orang yang
sebenarnya dipenjara adalah orang yang hatinya dipenjara dari kedekatan kepada
Rabb-nya.
Orang yang
dibelenggu ialah yang dibelenggu oleh hawa nafsunya.
(Ibnu Taimiyyah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar