Jumat, 06 Juni 2014



APA KABAR JIWAMU HARI INI?

Said bin Yazid – semoga Allah meridhoinya – berkata kepada Rasulullah SAW : “nasehatilah aku”. Nabi  SAW kemudian berkata : “aku wasiatkan engkau agar malu kepada Allah SWT sebagaimana engkau merasa malu dari orang yang shaleh” (HR Ahmad)
 
         





Wahai jiwa apa kabarmu hari ini? Telah begitu lama diri ini tidak mengajak engkau berdialog. Aku tahu bahwa selama ini engkau selalu aku acuhkan, tidak pernahpun diri ini berniatan menyapa engkau untuk sejenak menanyakan keadaan serta kebutuhan seperti apa yang semestinya aku penuhi untuk dirimu.
Wahai jiwa, aku tahu telah sekian lama aku menutupi kejelekkan akhlakku dengan berbagai kebohongan yang justru membuat dirimu kian tersakiti. Aku sebenarnya sadar, bahwa bukan materi yang kau dambakan, tidak juga jabatan serta popularitas yang kau impikan, melainkan ketentraman yang kau pinta carikan sampai detik ini. Aku tahu bahwa detik ini dirimu telah capek akan semua keserakahanku akan dunia ini, dirimu-pun mungkin telah kehilangan asa untuk merajut kententramanmu itu dikala keinsyafan ini belum juga hadir memenuhi seluruh relung kesadaranku, terlebih nafsu ini kian menikmati setiap kebejatan perilaku yang aku tekuni. Aku sungguh – sungguh sadar bahwa sampai detik ini aku tidak pernah mengeluh apalagi meratapi dosa – dosa ini, berbeda halnya ketika seringnya aku mengeluh atas setiap karya materi yang belum aku capai.
Wahai jiwa, aku sadari sedari awal bahwa entah tuk keberapakalinya aku diingatkan dengan firman Tuhanku : “sesungguhnya kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah” (QS. An – Naba’ : 40)



        
Dalam uraiannya seorang guru besar dalam ilmu Tafsir, Al – Imam Mujahid berkata: “manusia banyak yang mengeluh atas perhitungan di akherat, tetapi mereka tidak pernah mengeluh atas kedzaliman yang mereka kerjakan didunia, jangan sekali – sekali menganggap remeh dosa yang kalian kerjakan, karena dosa – dosa itu akan berkumpul dan bersama – sama akan mencelakakan pelakunya. Orang yang melakukan tindakan keji secara sembunyi – sembunyi ketika ia merahasiakan tindakannya itu (sebenarnya) bukanlah termasuk perbuatan manusia, bagaimana bisa dianggap rahasia, padahal malaikat dua pencatat amal, sekaligus saksi di kanan kirinya”.
Wahai diri, mari kita perdengarkan dengan mata hati kita akan untaian nasehat dari para guru besar ilmu psikologi terbesar yang pernah ada :


Bila manusia disibukkan dengan dunia, maka sibukkanlah dirimu dengan Allah SWT.
Bila manusia gembira dengan dunia, maka gembiralah dirimu bersama dengan Allah SWT.
Bila manusia merasa nyaman dengan yang dicintainya dari makhluk, maka rebutlah rasa nyamanmu bersama Allah SWT.
Bila manusia pergi kepada raja dan para penguasa meminta rezeki, maka mintalah engkau kepada Allah SWT
(Ibnu Qayyim Al - Jauziyyah)


Termasuk hukuman terhadap pelaku kemaksiatan adalah hilangnya rasa malu yang sebenarnya.
Malu itu adalah unsur hidup hati da nasal muasal semua kebaikan.
Hilangnya rasa malu berarti hilangnya kebaikan seluruhnya.
(Ibnu Qayyim Al - Jauziyyah)


Sesungguhnya bagi jiwa – jiwa manusia ada masanya ia mengalami semangat yang meluap – luap, namun ada masanya ia mengalami kejenuhan. Maka optimalkanlah waktu disaat jiwamu mengalami rasa semangat, dan janganlah engkau memaksakan diri di saat kejenuhan itu hadir di jiwamu.
(Ibnu Qayyim Al - Jauziyyah)


Orang yang sebenarnya dipenjara adalah orang yang hatinya dipenjara dari kedekatan kepada Rabb-nya.
Orang yang dibelenggu ialah yang dibelenggu oleh hawa nafsunya.
(Ibnu Taimiyyah)

Tidak ada komentar: