Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, demokrasi diartikan sebagai bentuk atau sistem pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya, gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban, serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara.
Kata Demokrasi berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita
kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Tapi fakta nya apakah seperti itu?? you already know, right! democracy is an illusion, think again it just damage system.
Secara umum, demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya
mewujudkan kedaulatan rakyat/kekuasaan warga negara atas negara untuk dijalankan oleh pemerintahan negara tersebut. Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica yang membagi ketiga kekuasaan
politik negara yaitu, eksekutif, yudikatif dan legislatif. Untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas/independen dan berada dalam peringkat yg sejajar satu
sama lain.
Pemerintahan demokratis diberi kewenangan membuat keputusan
melalui mandat yang di peroleh melalui pemilu. Selanjutnya warga Negara melalui
hak memilihnya yang periodik dapat terus menjaga agar pemerintahnya bertanggung
jawab kepada masyarakat. Dan jika pertanggungjawaban itu tidak diberikan, maka
warga Negara dapat mengganti pemerintahan melalui mekanisme demokrasi yang
tersedia.
Walau harus diakui corak dan model demokrasi beragam di
setiap negara, namun secara umum, rakyatlah yang memegang peranan penting dalam
proses demokrasi. (tapi bullshit) faktanya rakyat hanya di jadikan objek untuk para elit politik. tidak ada namanya demi kepentingan rakyat, itu semua hanya retorika.
Rakyat yang diserahi tanggung jawab memilih siapa wakil
yang mereka kehendaki melalui proses pemilihan baik langsung maupun tak
langsung. Harusnya aspirasi merekalah yang harus dilaksanakan oleh wakil-wakil terpilih.
Unsur berikutnya dan bahkan lebih mendasar dalam demokrasi
adalah kebebasan, yaitu yang katanya kebebasan berekspresi, berkumpul, berserikat, dan
media (Koran, radio, TV). Kebebasan yang di usung demokrasi dan lagi lagi faktanya yang ada malah kebebasan yang tidak terkontrol dan lebih cenderung menghancurkan.
Luar biasanya, sistem demokrasi sudah dianut oleh mayoritas
negara di dunia. Dengan berkiblat ke Negara (yang dianggap) Super Power "Amerika Serikat",
negara-negara di dunia berlomba-lomba berbenah
dan mengadopsi sistem ini. padahal mereka sudah tahu dan sudah banyak contoh bobroknya demokrasi.
Satu point yang perlu dicermati dari sistem demokrasi adalah
penentuan calon pemimpin atau wakil rakyat yang kelak seharusnya menyuarakan kehendak
rakyat. Mengingat azas
kebebasan yang berlaku dalam sistem demokrasi, maka setiap warga negara punya
hak dipilih dan memilih sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan
sebelumnya. dan mungkin harusnya juga "tidak memilih" merupakan bagian dari kebebasan demokrasi.
Celakanya jika dalam penetapan/pemilihan ini bermuatan kepentingan
segelintir orang atau kelompok, dan memang seperti itu kenyataannya, maka akan dibuat kriteria selonggar mungkin, dengan itu muncul kekhawatiran akan adanya sosok-sosok menggelikan. Mereka yang sebenarnya jauh dari kompeten namun memenuhi
syarat minimal berhak mencalonkan diri, dan akhirnya apa yg akan terjadi jika yg tidak berkompeten ini terpilih? seperti lirik lagu muse "and how can we win, when fools can be king"
Sisi lain yang tak kalah menakutkan adalah proses pra pemilihan umum. Mengingat calon harus memenangkan suara terbanyak untuk bisa duduk di tempat yang ia inginkan, maka mau tak mau harus ada usaha untuk merebut hati rakyat. seperti hari hari sekarang ini, kampanye, yang merupakan sebagai mekanisme "beriklan"
Semua kita tahu bagaimana gegap gempitanya, hingar bingar kampanye, yang malah lebih banyak mudhorotnya. Mulai
dari famplet, selebaran, panggung dangdut, iklan televisi, dan hal hal mubazir lainnya, Berbagai janji
diumbar di sana, janji sana sini, seperti sorang laki laki yang merayu pujaan hatinya, tapi semua Intinya sama, "pilih saya"
Mereka yang berkampanye,
membutuhkan dana yang tidak sedikit. Tentu saja hanya segelintir saja yang punya, mampu dan mau
mengeluarkan dana sebesar ini. Kalaupun tak punya dana sebesar itu, tersedia jalan lain.
Diperbolehkan menggalang dana dan mencari sponsor dari individu atau kelompok.
Dan tentu saja harus ada "traksaksi" atau semacam kesepakatan antara kedua
belah pihak. Intinya harus ada simbiosis mutualisme antara keduanya. what the hell is that? of course you already know what i mean.
Maka jadilah kampanye tidak sekedar pra pesta demokrasi
melainkan pesta bisnis di sisi lain. Inilah point berbahaya nya. Celah ini
sangat dipahami betul para pemilik modal, kapitalis. Mereka yang ingin mempertahankan
hegemoni bisnisnya rela merogoh kocek lebih dalam guna mendukung salah satu
calon yang dianggap menguntungkan bisnisnya kelak. huh bahaya sekali kan. Uang dan kekuatannya sering menjadikan proses pemilihan umum
menjadi tidak fair. lalu apakah ini yang kalian inginkan, demokrasi yang seperti ini kah? kita tidak bisa mengelak karena memang seperti inilah fakta yang terjadi sekarang, sudahlah jangan tutup mata, open your third eye, and you'll see that
Selain prosesnya sering tidak fair (kalau tidak mau dibilang curang), mekanisme dan
hasilnya pun tak jarang menimbulkan petaka. Namun sayangnya kehebatan media dan "marketing" demokrasi yang dimiliki tangan-tangan tersembunyi, membuat
demokrasi seolah batu karang gagah yang tak tergoyahkan. Di sisi lain, pelaku-pelaku politik yang sudah jauh
tenggelam dalam dahaga duniawi dan kekuasaan semakin banyak bermunculan.
Inilah cacat bawaan dan sisi gelap demokrasi yang sudah
banyak memakan korban. Pelan tapi pasti, dunia saat ini sedang berjalan ke arah
proses destruktif massal. masihkah kita tidak menyadarinya.
Saatnya kita terbangun dan sadar apa yang terjadi. Tersadar
bahwa ada jerat halus di leher kita, benarkah demokrasi itu baik?? ataukah kita sudah tahu namun pura pura tidak tahu.

